PONTIANAK, Okgas com
Berdasarkan Kalender Hijriah Indonesia 2025 dari Bimas Islam Kementerian Agama, Idulfitri 1446 H diperkirakan jatuh pada 31 Maret 2025. Namun, penetapan resmi Lebaran 2025 masih menunggu hasil sidang isbat Kementerian Agama.
Ketua Umum Rangkulan Jajaran Wartawan dan Lembaga Indonesia ( RAJAWALI), Hadysa Prana menyampaikan,selama satu bulan Ramadhan, Allah swt mendorong umat Muslim untuk memperbanyak ibadah. Ada yang senantiasa bertadarus Al-Qur’an, rajin shalat tarawih, berbagi sedekah takjil, rajin shalat jamaah, dan ibadah-ibadah lainnya.
"Di penghujung Ramadhan, kita semua bersiap untuk melepas kepergian bulan mulia ini sekaligus bersiap menyambut kedatangan hari raya Idul Fitri" Tutur Hady Minggu (23/03/25).
Saat Idul Fitri inilah semua umat Muslim bersukaria. Memakai baju baru, menyiapkan aneka kue lebaran untuk menyambut tamu, berkumpul dengan sanak saudara, dan sejumlah momen bahagia lainnya.
"Anjuran untuk memperlihatkan ekspresi bahagia saat hari kemenangan ini dianjurkan oleh Rasulullsaw. Dalam satu hadits diriwayatkan,
عَنْ أَنَسٍ، قَالَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم الْمَدِينَةَ وَلَهُمْ يَوْمَانِ يَلْعَبُونَ فِيهِمَا فَقَالَ "مَا هَذَانِ الْيَوْمَانِ". قَالُوا كُنَّا نَلْعَبُ فِيهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم "إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَبْدَلَكُمْ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ الأَضْحَى وَيَوْمَ الْفِطْرِ"
Artinya, “Diriwayatkan dari sahabat Anas, ia berkata, ‘Sekali waktu Nabi saw datang di Madinah, di sana penduduknya sedang bersuka ria selama dua hari. Lalu Nabi bertanya ‘Hari apakah ini (sehingga penduduk Madinah bersuka ria)?’ Mereka menjawab ‘Dulu semasa zaman jahiliah pada dua hari ini kami selalu bersuka ria.’ Kemudian Rasulullah saw bersabda, ‘Sesungguhnya Allah swt telah menggantikannya dalam Islam dengan dua hari yang lebih baik dan lebih mulia, yaitu hari raya kurban (Idul Adha) dan hari raya fitri (Idul Fitri).’” (HR Abu Dawud).
"Hanya saja, jangan sampai kebahagiaan di momen Idul Fitri membuat kita larut dalam kesenangan sehingga lupa bahwa pada hari kemenangan nanti, Allah menganjurkan kepada kita untuk beribadah dan tetap memiliki kesadaran sosial" Imbuhnya
"Sebab, bisa jadi saat itu ada saudara sesama Muslim yang kondisi ekonominya sedang tidak baik-baik saja sehingga jangankan mengenakan baju baru, untuk menikmati makanan spesial Idul Fitri saja belum bisa" Sambung Ketum
Saat hari raya Idul Fitri, kesadaran sosial kita seharusnya semakin matang. Jika selama Ramadhan kita digembleng untuk menahan lapar dan dahaga sehingga bisa merasakan bagaimana menjadi orang yang hidupnya berkekurangan, "maka Idul Fitri menjadi puncak kematangan empati kita sebagai seorang Muslim. Berbagi kepada saudara yang sedang berkekurangan di momen mulia ini menjadi salah satu bentuk pengamalan dari pengalaman yang sudah kita lalui selama berpuasa" Ujarnya
Selain itu, bisa jadi saat kita sedang menikmati opor ayam atau bersuka ria memakai baju baru, masih ada saudara yang belum bisa merasakan kenikmatan ini. "Oleh sebab itu tepat kiranya jika Idul Fitri dijadikan sebagai momen berbagi" Tegasnya
Idul Fitri adalah sejauhmana kita mampu menjaga konsistensi ibadah kepada Allah dan berbuat baik terhadap sesama manusia. Memakai baju baru memang dianjurkan sebagai bentuk syukur atas nikmat hari agung ini, " tapi jangan sampai ekspresi syukur tersebut berlebihan sehingga membuat kita lupa bahwa ternyata masih banyak saudara sesama muslim yang belum bisa bermewah ria seperti kita" Ungkapnya
Semoga Ramadhan tahun ini menjadi saksi ketaatan kita semua kepada Allah swt, ibadah yang kita lakukan di dalamnya diterima, dan dianugerahi umur panjang untuk berjumpa di Ramadhan-Ramadhan yang akan datang. "Minal aidin walfaizin, Mohon Maaf lahir dan Bathin" Tutup orang nomor satu di Rajawali Itu
(TIM)
0Comments